Minggu, 19 Mei 2013

Asetanilida

Asetanilida pertama kali ditemukan oleh Friedel Kraft pada tahun 1872 dengan cara mereaksikan asethopenon dengan NH2OH sehingga terbentuk asetophenon oxime yang kemudian dengan bantuan katalis dapat diubah menjadi asetanilida. Pada tahun 1899 Beckmand menemukan asetanilida dari reaksi antara benzilsianida dan H2O dengan katalis HCl. Pada tahun 1905 Weaker menemukan asetanilida dari anilin dan asam asetat.
Asetanilida merupakan senyawa turunan asetil amina aromatis yang digolongkan sebagai amida primer, dimana satu atom hidrogen pada anilin digantikan dengan satu gugus asetil. Asetinilida berbentuk butiran berwarna putih tidak larut dalam minyak parafin dan larut dalam air dengan bantuan kloral anhidrat.Asetanilida atau sering disebut phenilasetamida mempunyai rumus molekul C6H5NHCOCH3 dan berat molekul 135,16 gr/mol.Asetanilida pertama kali ditemukan oleh Friedel Kraft pada tahun 1872 dengan cara mereaksikan asethopenon dengan NH2OH sehingga terbentuk asetophenon oxime yang kemudian dengan bantuan katalis dapat diubah menjadi asetanilida. Pada tahun 1899 Beckmand menemukan asetanilida dari reaksi antara benzilsianida dan H2O dengan katalis HCl. Pada tahun 1905 Weaker menemukan asetanilida dari anilin dan asam asetat.
Ada beberapa proses pembuatan asetanilida, yaitu
a. Pembuatan asetanilida dari asam asetat anhidrid dan aniline 
b. Pembuatan asetanilida dari asam asetat dan aniline 
c. Pembuatan asetanilida dari ketene dan anilineKetene (gas) dicampur kedalam anilin di bawah kondisi yang diperkenankan akan menghasilkan asetanilida.
d. Pembuatan asetanilida dari asam thioasetat dan aniline


Asetanilida banyak digunakan dalam industri kimia , antara lain;
a.   Sebagai bahan baku pembuatan obat-obatan
b.   Sebagai zat awal penbuatan penicilium
c.   Bahan pembantu dalam industri cat dan karet
d.   Bahan intermediet pada sulfon dan asetilklorida

Sifat Fisis dan Kimia Anilin, Asam Asetat, dan Asetanilida
a.   Anilin
      Sifat – sifat fisis:
-          Rumus molekul : C6H5NH2
-          Berat molekul : 93,12 g/gmol
-          Titik didih normal : 184,4 oC
-          Suhu kritis : 426 oC
-          Tekanan kritis : 54,4 atm
-          Wujud : cair
-          Warna : jernih
-          Spesifik gravitu : 1,024 g/cm3
Sifat – sifat kimia:
- Halogenasi senyawa anilin dengan brom dalam larutan sangat encer menghasilkan endapan 2, 4, 6 tribromo anilin.
-  Pemanasan anilin hipoklorid dengan senyawa anilin sedikit berlebih pada tekanan sampai 6 atm menghasilkan senyawa diphenilamine.
-  Hidrogenasi katalitik pada fase cair pada suhu 135 – 170oC dan tekanan 50 – 500 atm menghasilkan 80% cyclohexamine ( C6H11NH2 ). Sedangkan hidrogenasi anilin pada fase uap dengan menggunakan katalis nikel menghasilkan 95% cyclohexamine.
- Nitrasi anilin dengan asam nitrat pada sushu -20oC menghasilkan mononitroanilin, dan nitrasi anilin dengan nitrogen oksida cair pada suhu 0oC menghasilkan 2, 4 dinitrophenol.

b.   Asam Asetat
Sifat – sifat fisis:
-          Rumus molekul : CH3COOH
-          Berat molekul : 6.,053 g/gmol
-          Titik didih normal : 117,9 oC
-          Titik leleh : 16,7 oC
-          Berat jenis : 1,051 gr/ml
-          Suhu kritis : 321,6 oC
-          Tekanan kritis : 57,2 atm
-          Wujud : cair
-          Warna : jernih
-          Panas pembakaran : 208,34 kkal/mol
-          Panas penguapan : 96,8 kal/gr ( 118 oC )
Sifat – sifat kimia:
- Dengan alkohol menghasilkan proses esterifikasi
R-OH + CH3COOH CH3COOR + H2O
- Pembentukan garam keasaman
2 CH3COOH + Zn (CH3COO)2Zn2+ + H
- Konversi ke klorida – klorida asam
CH3COOH + PCl3 3CH3COOCl + H3PO3
- Pembentukan ester
CH3COOH + CH3CH2OH H+ CH3COOC2H5 + H2O
- Reaksi dari halida dengan ammoniak
CH3COOH Cl ClCH2COOHNH3 NH2CH2COONH H+ NH2CH2COOH3.

c.          Asetanilida
            Sifat – sifat fisis:
-          Rumus molekul : C6H5NHCOCH3
-          Berat molekul : 135,16 g/gmol
-          Titik didih normal : 305 oC
-          Titik leleh : 114,16 oC
-          Berat jenis : 1,21 gr/ml
-          Suhu kritis : 843,5 oC
-          Titik beku : 114 oC
-          Wujud : padat
-          Warna : putih
-          Bentuk : butiran / Kristal

            Sifat-sifat kimia:
- Pirolysis dari asetanilida menghasilkan N-diphenil urea, anilin, benzene dan hydrocyanic acid.
- Asetanilida merupakan bahan ringan yang stabil dibawah kondisi biasa, hydrolisa dengan alkali cair atau dengan larutan asam mineral cair dalam kedaan panas akan kembali ke bentuk semula.
- Adisi sodium dalam larutan panas Asetanilida didalam xilena menghasilkan N-Sodium derivative.   
C6H5NHCOCH3 + HOH              C6H5NH2 + CH3COOH
- Bila dipanaskan dengan phospor pentasulfida menghasilkan thio Asetanilida ( C6H5NHC5CH3 ).
- Bila di treatmen dengan HCl, Asetanilida dalam larutan asam asetat menghasilkan 2 garam ( 2 C6H5NHCOCH3 ).
- Dalam larutan yang memgandung pottasium bicarbonat menghasilkan N- bromo asetanilida.
- Nitrasi asetanilida dalam larutan asam asetaat menghasilkan p-nitro Asetanilida.

Tinjauan Proses Secara Umum, Asetanilida dibuat dari reaksi antara anilin dengan asam asetat.  Produknya berupa kristal yang dimurnikan dengan kristalisasi. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
C6H5NH2 + CH3COOH              C6H5NHCOCH3 + HOH
Mekanisme reaksi pembuatan Asetanilida disebut juga dengan reaksi asilasi amida yang diberikan oleh Fessenden, sebagai berikut : Mula-mula anilin bereaksi dengan asam asetat membentuk suatu amida dalam keadaan transisi, kemudian diikuti dengan reduksi H2O membentuk asetanilida. Substitusi aromatik elektrofilik adalah reaksi organik dimana sebuak atom, biasanya hidrogen, yang terikat pada sistem aromatis diganti dengan elektrofil. Reaksi terpenting di kelas ini adalah nitrasi aromatik, halogenasi aromatik, sulfonasi aromatik dan asilasi dan alkilasi reaksi Friedel-Crafts.
Penggunaan Derivat Asam Karboksilat dalam Sintesis
Asam karboksilat dan derivat (turunan-turunannya) semua bersifat dapat diubah satu menjadi yang lain secara sintetik. Namun dari antara derivat asam karboksilat ini, halida asam dan anhidrida agaknya yang paling serbaguna, karena keduanya lebih reakstif daripada senyawa karbonil yang lain. Keduanya dapat digunakan untuk mensintesis ester yang terintangi (secara sterik) dan ester fenil, yang tidak dapat dibuat dengan rendemen yang baik dengan pemanansan RCOOH dan R’OH dengan katalis asam, karena kesetimbangan tidak menguntungkan.
Kedua derivat ini juga merupakan reagensia yang paling berguna untuk membuat amida tersubtitusi-N. Ruduksi suatu klorida asam dengan LiAlH(OR)3 menyajikan satu dari hanya sedikit jalur ke aldehida. 
Meskipun ester tidak sereaktif klorida asam atau anhidrida, mereka berguna dalam sintesis alkohol (dengan reduksi atau dengan reaksi Grignard) dan merupakan bahan awal yang berharga dalam mensintesis molekul rumit.
Sintesis nitril memberikan satu dari teknik-teknik yang paling mudah untuk memperpanjang rantai karbon alifatik dengan satu rantai lagi, atau untuk menambahkan suatu gugus karboksil atau suatu gugus NH2.
Seperti telah disebut, reaksi RX dan CN- memberikan rendemen terbaik dengan alkil halide primer. Alkil halide sekunder dapat juga digunakan, tetapi rendemennya lebih rendah.
 Asetilasi Amina Aromatis
Anilin merupakan amina aromatis primer. Reaksi subtitusi terhadap amina aromatis dapat berupa subtitusi pada cincin benzene atau subtitusi pada gugus amina. Asetilasi amina aromatis primer atau sekunder banyak dilakukan dengan klorida asam dalam suasana basa atau dengan mereaksikan amina dengan asetat anhidrida. Aniline primer bereaksi dengan asetat anhidrida menghasilkan asetanilida.
Jika asetat anhidrida yang digunakan berlebihan dan pemanasan dilakukan pada waktu yang lama, maka sejumlah turunan diasetil akan terbentuk. Namun demikian, turunan diasetil tidak stabil dengan kehadiran air dan mengalami hidrolisis menghasilkan senyawa monoasetil.
Amina dapat mengalami reaksi hidrolisa dalam suasana asam membentuk asam karboksilat dan garam amina, sedangkan dalam suasana basa membentuk ion karboksilat dan amina.

SUMBER
Hadi, Abdul Lilhaq. 2011. Pembuatan asetanilida, (Online),   
Haznawati, Hafila. 2012. Sintesa asetanilida. Pembuatan asetanilida, (Online),
Pramushinta, Diah. 2012. Asetanilida, (Online),

Selasa, 15 Januari 2013

Otitis

Helow dear, first my post on January 2013 about my sickness that I feel on 31th december ago, its makes me afraid whats wrong with my ear, yeah just my right ear. Suddenly my ear is buzzing and its so pain :( so i decided to go to doctor THT.  And you know, i gave the doctor more question what happened with my ear, and the doctor said it just inflammation didn't say anymore just it, so when I read my medcine, I shocked when I read the word that mentioned bacteria, viruses and it makes me grow worried about it. So I searched what the disease is, and that information gave me a symptom  and information about inflamantion ear similiar like I have. Want you know that? Here they are :) 


           What is Otitis Media?
         Otitis media (Latin for "Infection of the Middle Ear") is inflammation of the middle ear, or middle ear infection. Otitis media occurs in the area between the ear drum (the end of the outer ear) and the inner ear, including a duct known as the eustachian tube. It is one of the two categories of ear inflammation that can underlie what is commonly called an earache, the other being otitis externa.Diseases other than ear infections can also cause ear pain, including cancers of any structure that shares nerve supply with the ear and shingles which can lead to herpes zoster oticus. Otitis media has many degrees of severity,and various names are used to describe each. The terminology is sometimes confusing because of multiple terms being used to describe the same condition. 
            The rhinoviruses (nose viruses) that cause the common cold infect the Eustachian tube that goes from the back of the nose to the middle ear, causing swelling and compromise of pressure equalization, which is one of the normal functions of the tube.  The other main function is the lateral drainage of fluids from tissues on either side of the skull. It has to be remembered that the Eustachian Tube is only the width of three to four hairs in places along its length. It also changes its anatomical and physiological appearance during the early growth period of the child.  In the newborn the tube is horizontal making it more difficult to drain naturally, and the surface of the tube is 100% cartilage, with a lining of Lymphatic tissue which is an extension of the Adenoidal tissue from the back of the nose. 
             As the early years pass by the superior (upper) part of the tube ossifies to bone but the lower remains the same.  The angle of the tubes changes and descends to roughly a 45 degree angle increasing the downward flow of fluids. It should be noted that individuals with Downs Syndrome anatomically have more severe curves to their tubes, hence why D.S children tend to have more grommet operations than other children.  In general, the more severe and prolonged the compromise of Eustachian tube function, the more severe the consequences are to the middle ear and its delicate structures.  If a person is born with poor Eustachian tube function, this greatly increases the likelihood of more frequent and severe episodes of otitis media.  Progression to chronic otitis media is much more common in this group of people, who often have a family history of middle ear disease.


       The Symptoms 
             When the middle ear becomes acutely infected, pressure builds up behind the eardrum (tympanic membrane), frequently causing pain. It may result in ''bullous myringitis'', in which the tympanic membrane is inflamed and blistered. In severe or untreated cases, the tympanic membrane may rupture, allowing the pus in the middle ear space to drain into the ear canal. If there is enough of it, this drainage may be obvious. Even though the rupture of the tympanic membrane suggests a traumatic process, it is almost always associated with the dramatic relief of pressure and pain. In a simple case of acute otitis media in an otherwise healthy person, the body's defenses are likely to resolve the infection and the ear drum nearly always heals. Antibiotic administration can prevent perforation of the eardrum and hasten recovery of the ear.
             Instead of the infection and eardrum perforation resolving, however, drainage from the middle ear can become a chronic condition. As long as there is active middle ear infection,the eardrum will not heal.The World Health Organization defines chronic suppurative otitis media (CSOM) as "a stage of ear disease in which there is chronic infection of the middle ear cleft, a non-intact tympanic membrane (i.e. perforated eardrum) and discharge (otorrhoea),for at least the preceding two weeks" (WHO 1998). Notice WHO's use of the term ''serous'' to denote a bacterial process, whereas the same term is generally used by ear physicians in the United States to denote simple fluid collection within the middle ear behind an intact eardrum.''Chronic otitis media'' is the term used by most ear physicians worldwide to describe a chronically infected middle ear with eardrum perforation.



Sabtu, 10 November 2012

Jumat, 26 Oktober 2012

Teori Belajar Clark Hull

A.        SEJARAH
Clark L. Hull (1884-1952) meraih gelar Ph. D. dari university of Wisconsin pada 1918, tempat dia mengajar dari 1916 sampai 1929. Pada tahun 1929 dia pindah ke Yale dan tetap di sana sampai meninggal. Karier Hull dapat dibagi menjadi tiga bagian terpisah, yaitu perhatian utama pertamanya adalah tes bakat dan kecakapan, perhatian kedua Hull adalah hypnosis, dan perhatian ketiganya, dan karya yang membuat terkenal adalah studi proses belajar.
Buku buatan pertama Hull mengenai belajar, principles of behavior (1943) mengubah studi tentang belajar secara radikal. Karya ini adalah usaha pertama untuk mengaplikasikan teori ilmiah yang komprehensif ke dalam studi fenomena psikologis yang kompleks. Hull adalah orang pertama yang menggunakan teori yang kukuh untuk mempelajarai dan menjelaskan proses belajar. Atas usahanya, Hull menerima warren Medal pada 1945 dari society of Experimental Psychology.
Hull menderita cacat fisik yaitu kelumpuhan sebagian karena polio sejak kecil. Pada 1948 di terkena serangan jantung koroner dan empat tahun kemudian dia meninggal. Dalam buku terakhirnya (behavior system), dia mengekspresikan penyelasannya karena buku ketiga tentang belajar yang ingin ditulisnya tidak pernah terwujud.
Walaupun Hull merasa teorinya belum lengkap, namun teorinya sangat berpengaruh terhadap teori belajar di seluruh dunia. Clark Hull adalah kontributor utama untuk pengetahuan kita tentang proses belajar. Tujuan teori Hull adalah menjelaskan perilaku adaptif dan untuk memahami variabel-variabel yang mempengaruhinya. Dapat dikatakan bahwa Hull tertarik untuk menyusun sebuah teori yang menjelaskan bagaimana kebutuhan tubuh, lingkungan dan perilaku saling berinteraksi untuk meningkatkan probabilitas survival organisme.

B.        Konsep dan Teori
Dasar dari teori belajar Hull adalah teori belajar behavioristik.  Clark Hull menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian belajar. Namun Hull juga terpengaruh oleh teori evolusi Charles Darwin. Bagi Hull semua fungsi tingkah laku bermanfaat, terutama untuk menjaga agar organisme tetap bertahan hidup. Oleh sebab itu Hull mengatakan kebutuhan biologis (drive) dan pemuasan kebutuhan biologis (drive reduction) adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus (stimulus dorongan) dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat berwujud macam-macam.
Clark L. Hull mendasarkan teori belajarnya pada tingkah laku yang diselidiki dengan hubungan perkuatan S-R.
 Kebutuhan yang timbul akan menyebabkan terbentuknya suatu perilaku yang akan mereduksi kebutuhan secara berangsur-angsur yang dapat dipelajari responnya. Stimulus yang dapat menimbulkan respon adalah stimulus yang mengenai saraf sensoris atau reseptor kemudian menimbulkan impuls yang masuk afferent, yaitu saraf gerak dan dapat mengaktifkan otot-otot maskuler.
S dengan huruf besar merupakan stimulus dan obyeknya. S dengan huruf kecil merupakan stimulus dalam organisme, stimulus yang sudah berupa impuls. Impuls merupakan perangsang atau stimulus yang sudah ada dan bekerja dalam saraf. Dalam teori kali ini yang akan kita pakai s dengan huruf besar.
Hull membedakan tendensi untuk timbulnya R dan r. R untuk respon yang nampak, faktual, dan r adalah predisposisi respon yang masih dalam aktivitas saraf. r merupakan respon yang masih ada didalam organisme, jadi tidak nampak, tapi mempengaruhi tingkah laku. Hull mengganti S-R menjadi SHR, dimana H merupakan habit.
Hull membedakan antara learning dengan performance. Tindakan dipengaruhi oleh banyak hal, tetapi belajar hanya dipengaruhi oleh faktor jumlah waktu, respon khusus terjadi karena kontinu dengan perkuatan. Menurut Hull tingkah laku bersumber pada kebutuhan yang merupakan tuntutan hidup.

Hull juga mengembangkan beberapa definisi, antara lain:
1.        Kebutuhan (Need)
Kebutuhan merupakan keadaan organisme yang menyimpang dari kondisi biologis optimum pada umumnya yang digunakan untuk melangsungkan hidupnya.
2.        Dorongan (Drive)
Kondisi kekosongan ganda organisme sehingga mendorong untuk melakukan sesuatu. Istilah lain dari dorongan adalah motiv.
3.        Perkuatan (Reinforcement)
Sesuatu yang dapat memperkuat hubungan S-R, dan respon terhadap stimulus tersebut dapat mengurangi ketegangan kebutuhan.

C.        Postulat yang Diajukan Oleh Hull

Hull mengajukan enam belas postulat . Postulat-postulat itu adalah pernyataan umum tentang perilaku yang tidak dapat diverifikasi secara langsung.
Postulat 1: Sensing the external environment and the Stimulus Trace.  ( Impuls saraf afferent dan bekas lanjutannya )
Jika suatu perangsang mengenai reseptor, maka timbullah impuls saraf afferent dengan cepat mencapai puncak intensitasnya dan kemudian berkurang secara berangsur-angsur. Sesaat saraf afferent berisi impuls dan diteruskan kepada saraf sentral dala beberapa detik dan seterusnya timbul respon. S-R diubah menjadi S-s-R atau S-s-r-R. Simbol s adalah impuls atau stimulus trace dalam saraf sensoris, dan simbol r adalah impuls respon yang masih dalam saraf fferent.

Postulat 2: The Interaction of Sensory Impulses. Interaction of sensory impulses ( s )
(Interaksi saraf afferent)
Impuls dalam suatu saraf afferent dapat diteruskan ke satu atau lebih saraf afferent lainnya. R timbul tidak hanya karena satu stimulus, tetapi lebih dari satu S yang lalu terjadi kombinasi berbagai stimulus. Rumusnya akan berubah menjadi S-r-R.

Postulat 3: Unlearned behavior (tingkah laku yang tidak dipelajari)
Sejak lahir organisme mempunyai hierarki respon penentu kebutuhannya yang timbul karena ada rangsangan-rangsangandan dorongan. Respon terhadap kebutuhan tertentu bukan merupakan respon pilihan secara random, tetapi respon yang memang ditentukan oleh kebutuhannya, misalnya mata kena debu maka mata berkedip dan keluar air mata.

Postulat 4: contiguity and Drive reduction as Necessary conditions for Learning. (kontiguitas dan Reduksi Dorongan sebagai kondisi-kondisi untuk belajar)
Kekuatan kebiasaan akan bertambah jika kegiatan-kegiatan reseptor dan efektor terjadi dalam persamaan waktu yang menyebabkan hubungan kontiguitif dengan hadiah pertama dan hadiah kedua.

Postulat 5: stimulus generalization. (penyamarataan)
Kekuatan kebiasaan yang efektif timbul karena stimulus lain daripada stimulus pertama yang menjadi persyaratan bergantung kepada penindakan stimulus kedua dari yang pertama dalam kesatuan yang terus menerus dari ambang perbedaan, dengan kata lain yang ingin dibentuk merupakan hasil rata-rata persyaratan stimulus berikutnya.

Postulat 6: Stimuli associated with drives. (Stimulus dorongan)
Hubungan dengan tiap-tiap dorongan adalah stimulus dorongan karakteristik yang intensitasnya meningkat dengan kekuatan dorongan.

Postulat 7: Reaction as a Function of Drive and habit strength. (Potensi reaksi yang ditimbulkan oleh dorongan)
Kekuatan kebiasaan disintesiskan kedalam potensi reaksi dengan dorongan-dorongan primer yang timbul pada saat tertentu.

Postulat 8: Responding Causes Fatigues, Which Operates Against the Elicitation of a Conditional Response.  (Pengekangan reaksi)
Timbulnya suatu reaksi menyebabkan pengekangan reaksi yang lain. Suatu kejemuan untuk mengulangi respon. Pengekangan reaksi adalah penghamburan waktu yang spontan.

Postulat 9: the Learned Response of Not Responding.
            Kelelahan adalah pendorong negative, dan karenanya tidak memberikan respons akan menghasilkan penguatan. Tidak member respon akan menyebabkan IR menghilang, dan karenanya mengurangi dorongan kelelahan. Respons untuk tidak merespons ini dinamakan conditioned inhibitattion (SIR) (hambatan yang dikondisikan)

Postulat 10: Factors Tending ti Inhibit a Learned respons Change from Moment to Moment.
Menurut Hull, ada “potensi penghambat” yang bervariasi dari satu waktu ke waktu lainnya dan menghambat munculnya respons yang telah dipelajari. “potensi penghambat” ini dinamakan oscillation effect (efek guncangan [SOR] ).

Postulat 11: momentary Effective Reaction potential Must Exceed a certain value before a Leraned Response can Occur.
Potensi reaksi efektif yang momentum harus melampaui reaksi ambang perangsang sebelum stimulus membangkitkan reaksi.

Postulat 12: Kemungkinan reaksi diatas ambang perangsang.
Kemungkinan respon adalah fungsi normal dari potensi reaksi efektif melampaui reaksi ambang perangsang.

Postulat 13: The Greater the Value of SER the sorter will be the latency between S and R. latency [str ] adalah waktu antara presentasi stimulus ke organisme dan respons yang dipelajarinya. Postulat ini menyatakan bahwa waktu reaksi antara awal stimulus dan kemunculan respons yang telah dipelajari akan turun jika nilai SER naik.
Postulat 13: Latensi (keadaan diam atau berhenti)
Makin potensi reaksi efektif melampaui reaksi ambang perangsang makin pendek latensi respon, artinya respon makin cepat timbul.

Postulat 14: Hambatan berhenti (ekstingsi)
Makin besar potensi reaksi efektif, makin besar respon yang timbul tanpa perkuatan, sebelum berhenti atau ekstingsi.

Postulat 15: The amplitude of a conditional response Amplitudo respon (besarnya respon)
Besarnya dorongan dilantari atau disebabkan oleh peningkatan kekuatan potensi efektif reaksi dalam sistem saraf otonom.

Postulat 16 : When Two or More Incompatible Response Tend to be Elicited in the Same Situation, the One with the Greatest  sEr  will occur.  
Jika potensi-potensi reaksi kepada dua atau lebih respon-respon yang bertentangan terjadi dalam organisme pada waktu yang sama, maka hanya reaksi yang mempunyai potensi reaksi yang lebih besar akan terjadi responnya.

Hull mengajukan enam belas postulat dalam cakupan enam hal yakni sebagia berikut:
1.      Tanda-tanda luar yang mendorong atau membimbing tingkah laku dan representasi neuralnya atau saraf. (postulat 1-3)
2.      Respon terhadap kebutuhan, hadiah dan kekuatan kebiasaan. (postulat 3 &4)
3.      Stimulus pengganti (ekuaivalen) (postulat 5)
4.      Dorongan-dorongan sebagai akitivator respon. (postulat 6 & 7)
5.      Faktor-faktor yang melawan respon-respon (postulat 8,9,10)
6.      Bangkitnya respon. (postulat 11-16)

D. Beberapa persamaan teori belajar Hull dengan teori belajar sebelumnya adalah sebagai berikut:
1.Berdasarkan asosiasi S-R
2.Berdasarkan cara melangsungkan hidup.
3.Berdasarkan kebutuhan biologis dan pemenuhannya.
4.Orientasinya kepada teori Pavlov.


Asetanilida

Asetanilida pertama kali ditemukan oleh Friedel Kraft pada tahun 1872 dengan cara mereaksikan asethopenon dengan NH2OH sehingga terbentuk asetophenon oxime yang kemudian dengan bantuan katalis dapat diubah menjadi asetanilida. Pada tahun 1899 Beckmand menemukan asetanilida dari reaksi antara benzilsianida dan H2O dengan katalis HCl. Pada tahun 1905 Weaker menemukan asetanilida dari anilin dan asam asetat.
Asetanilida merupakan senyawa turunan asetil amina aromatis yang digolongkan sebagai amida primer, dimana satu atom hidrogen pada anilin digantikan dengan satu gugus asetil. Asetinilida berbentuk butiran berwarna putih tidak larut dalam minyak parafin dan larut dalam air dengan bantuan kloral anhidrat.Asetanilida atau sering disebut phenilasetamida mempunyai rumus molekul C6H5NHCOCH3 dan berat molekul 135,16 gr/mol.Asetanilida pertama kali ditemukan oleh Friedel Kraft pada tahun 1872 dengan cara mereaksikan asethopenon dengan NH2OH sehingga terbentuk asetophenon oxime yang kemudian dengan bantuan katalis dapat diubah menjadi asetanilida. Pada tahun 1899 Beckmand menemukan asetanilida dari reaksi antara benzilsianida dan H2O dengan katalis HCl. Pada tahun 1905 Weaker menemukan asetanilida dari anilin dan asam asetat.
Ada beberapa proses pembuatan asetanilida, yaitu
a. Pembuatan asetanilida dari asam asetat anhidrid dan aniline 
b. Pembuatan asetanilida dari asam asetat dan aniline 
c. Pembuatan asetanilida dari ketene dan anilineKetene (gas) dicampur kedalam anilin di bawah kondisi yang diperkenankan akan menghasilkan asetanilida.
d. Pembuatan asetanilida dari asam thioasetat dan aniline


Asetanilida banyak digunakan dalam industri kimia , antara lain;
a.   Sebagai bahan baku pembuatan obat-obatan
b.   Sebagai zat awal penbuatan penicilium
c.   Bahan pembantu dalam industri cat dan karet
d.   Bahan intermediet pada sulfon dan asetilklorida

Sifat Fisis dan Kimia Anilin, Asam Asetat, dan Asetanilida
a.   Anilin
      Sifat – sifat fisis:
-          Rumus molekul : C6H5NH2
-          Berat molekul : 93,12 g/gmol
-          Titik didih normal : 184,4 oC
-          Suhu kritis : 426 oC
-          Tekanan kritis : 54,4 atm
-          Wujud : cair
-          Warna : jernih
-          Spesifik gravitu : 1,024 g/cm3
Sifat – sifat kimia:
- Halogenasi senyawa anilin dengan brom dalam larutan sangat encer menghasilkan endapan 2, 4, 6 tribromo anilin.
-  Pemanasan anilin hipoklorid dengan senyawa anilin sedikit berlebih pada tekanan sampai 6 atm menghasilkan senyawa diphenilamine.
-  Hidrogenasi katalitik pada fase cair pada suhu 135 – 170oC dan tekanan 50 – 500 atm menghasilkan 80% cyclohexamine ( C6H11NH2 ). Sedangkan hidrogenasi anilin pada fase uap dengan menggunakan katalis nikel menghasilkan 95% cyclohexamine.
- Nitrasi anilin dengan asam nitrat pada sushu -20oC menghasilkan mononitroanilin, dan nitrasi anilin dengan nitrogen oksida cair pada suhu 0oC menghasilkan 2, 4 dinitrophenol.

b.   Asam Asetat
Sifat – sifat fisis:
-          Rumus molekul : CH3COOH
-          Berat molekul : 6.,053 g/gmol
-          Titik didih normal : 117,9 oC
-          Titik leleh : 16,7 oC
-          Berat jenis : 1,051 gr/ml
-          Suhu kritis : 321,6 oC
-          Tekanan kritis : 57,2 atm
-          Wujud : cair
-          Warna : jernih
-          Panas pembakaran : 208,34 kkal/mol
-          Panas penguapan : 96,8 kal/gr ( 118 oC )
Sifat – sifat kimia:
- Dengan alkohol menghasilkan proses esterifikasi
R-OH + CH3COOH CH3COOR + H2O
- Pembentukan garam keasaman
2 CH3COOH + Zn (CH3COO)2Zn2+ + H
- Konversi ke klorida – klorida asam
CH3COOH + PCl3 3CH3COOCl + H3PO3
- Pembentukan ester
CH3COOH + CH3CH2OH H+ CH3COOC2H5 + H2O
- Reaksi dari halida dengan ammoniak
CH3COOH Cl ClCH2COOHNH3 NH2CH2COONH H+ NH2CH2COOH3.

c.          Asetanilida
            Sifat – sifat fisis:
-          Rumus molekul : C6H5NHCOCH3
-          Berat molekul : 135,16 g/gmol
-          Titik didih normal : 305 oC
-          Titik leleh : 114,16 oC
-          Berat jenis : 1,21 gr/ml
-          Suhu kritis : 843,5 oC
-          Titik beku : 114 oC
-          Wujud : padat
-          Warna : putih
-          Bentuk : butiran / Kristal

            Sifat-sifat kimia:
- Pirolysis dari asetanilida menghasilkan N-diphenil urea, anilin, benzene dan hydrocyanic acid.
- Asetanilida merupakan bahan ringan yang stabil dibawah kondisi biasa, hydrolisa dengan alkali cair atau dengan larutan asam mineral cair dalam kedaan panas akan kembali ke bentuk semula.
- Adisi sodium dalam larutan panas Asetanilida didalam xilena menghasilkan N-Sodium derivative.   
C6H5NHCOCH3 + HOH              C6H5NH2 + CH3COOH
- Bila dipanaskan dengan phospor pentasulfida menghasilkan thio Asetanilida ( C6H5NHC5CH3 ).
- Bila di treatmen dengan HCl, Asetanilida dalam larutan asam asetat menghasilkan 2 garam ( 2 C6H5NHCOCH3 ).
- Dalam larutan yang memgandung pottasium bicarbonat menghasilkan N- bromo asetanilida.
- Nitrasi asetanilida dalam larutan asam asetaat menghasilkan p-nitro Asetanilida.

Tinjauan Proses Secara Umum, Asetanilida dibuat dari reaksi antara anilin dengan asam asetat.  Produknya berupa kristal yang dimurnikan dengan kristalisasi. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
C6H5NH2 + CH3COOH              C6H5NHCOCH3 + HOH
Mekanisme reaksi pembuatan Asetanilida disebut juga dengan reaksi asilasi amida yang diberikan oleh Fessenden, sebagai berikut : Mula-mula anilin bereaksi dengan asam asetat membentuk suatu amida dalam keadaan transisi, kemudian diikuti dengan reduksi H2O membentuk asetanilida. Substitusi aromatik elektrofilik adalah reaksi organik dimana sebuak atom, biasanya hidrogen, yang terikat pada sistem aromatis diganti dengan elektrofil. Reaksi terpenting di kelas ini adalah nitrasi aromatik, halogenasi aromatik, sulfonasi aromatik dan asilasi dan alkilasi reaksi Friedel-Crafts.
Penggunaan Derivat Asam Karboksilat dalam Sintesis
Asam karboksilat dan derivat (turunan-turunannya) semua bersifat dapat diubah satu menjadi yang lain secara sintetik. Namun dari antara derivat asam karboksilat ini, halida asam dan anhidrida agaknya yang paling serbaguna, karena keduanya lebih reakstif daripada senyawa karbonil yang lain. Keduanya dapat digunakan untuk mensintesis ester yang terintangi (secara sterik) dan ester fenil, yang tidak dapat dibuat dengan rendemen yang baik dengan pemanansan RCOOH dan R’OH dengan katalis asam, karena kesetimbangan tidak menguntungkan.
Kedua derivat ini juga merupakan reagensia yang paling berguna untuk membuat amida tersubtitusi-N. Ruduksi suatu klorida asam dengan LiAlH(OR)3 menyajikan satu dari hanya sedikit jalur ke aldehida. 
Meskipun ester tidak sereaktif klorida asam atau anhidrida, mereka berguna dalam sintesis alkohol (dengan reduksi atau dengan reaksi Grignard) dan merupakan bahan awal yang berharga dalam mensintesis molekul rumit.
Sintesis nitril memberikan satu dari teknik-teknik yang paling mudah untuk memperpanjang rantai karbon alifatik dengan satu rantai lagi, atau untuk menambahkan suatu gugus karboksil atau suatu gugus NH2.
Seperti telah disebut, reaksi RX dan CN- memberikan rendemen terbaik dengan alkil halide primer. Alkil halide sekunder dapat juga digunakan, tetapi rendemennya lebih rendah.
 Asetilasi Amina Aromatis
Anilin merupakan amina aromatis primer. Reaksi subtitusi terhadap amina aromatis dapat berupa subtitusi pada cincin benzene atau subtitusi pada gugus amina. Asetilasi amina aromatis primer atau sekunder banyak dilakukan dengan klorida asam dalam suasana basa atau dengan mereaksikan amina dengan asetat anhidrida. Aniline primer bereaksi dengan asetat anhidrida menghasilkan asetanilida.
Jika asetat anhidrida yang digunakan berlebihan dan pemanasan dilakukan pada waktu yang lama, maka sejumlah turunan diasetil akan terbentuk. Namun demikian, turunan diasetil tidak stabil dengan kehadiran air dan mengalami hidrolisis menghasilkan senyawa monoasetil.
Amina dapat mengalami reaksi hidrolisa dalam suasana asam membentuk asam karboksilat dan garam amina, sedangkan dalam suasana basa membentuk ion karboksilat dan amina.

SUMBER
Hadi, Abdul Lilhaq. 2011. Pembuatan asetanilida, (Online),   
Haznawati, Hafila. 2012. Sintesa asetanilida. Pembuatan asetanilida, (Online),
Pramushinta, Diah. 2012. Asetanilida, (Online),

Otitis

Helow dear, first my post on January 2013 about my sickness that I feel on 31th december ago, its makes me afraid whats wrong with my ear, yeah just my right ear. Suddenly my ear is buzzing and its so pain :( so i decided to go to doctor THT.  And you know, i gave the doctor more question what happened with my ear, and the doctor said it just inflammation didn't say anymore just it, so when I read my medcine, I shocked when I read the word that mentioned bacteria, viruses and it makes me grow worried about it. So I searched what the disease is, and that information gave me a symptom  and information about inflamantion ear similiar like I have. Want you know that? Here they are :) 


           What is Otitis Media?
         Otitis media (Latin for "Infection of the Middle Ear") is inflammation of the middle ear, or middle ear infection. Otitis media occurs in the area between the ear drum (the end of the outer ear) and the inner ear, including a duct known as the eustachian tube. It is one of the two categories of ear inflammation that can underlie what is commonly called an earache, the other being otitis externa.Diseases other than ear infections can also cause ear pain, including cancers of any structure that shares nerve supply with the ear and shingles which can lead to herpes zoster oticus. Otitis media has many degrees of severity,and various names are used to describe each. The terminology is sometimes confusing because of multiple terms being used to describe the same condition. 
            The rhinoviruses (nose viruses) that cause the common cold infect the Eustachian tube that goes from the back of the nose to the middle ear, causing swelling and compromise of pressure equalization, which is one of the normal functions of the tube.  The other main function is the lateral drainage of fluids from tissues on either side of the skull. It has to be remembered that the Eustachian Tube is only the width of three to four hairs in places along its length. It also changes its anatomical and physiological appearance during the early growth period of the child.  In the newborn the tube is horizontal making it more difficult to drain naturally, and the surface of the tube is 100% cartilage, with a lining of Lymphatic tissue which is an extension of the Adenoidal tissue from the back of the nose. 
             As the early years pass by the superior (upper) part of the tube ossifies to bone but the lower remains the same.  The angle of the tubes changes and descends to roughly a 45 degree angle increasing the downward flow of fluids. It should be noted that individuals with Downs Syndrome anatomically have more severe curves to their tubes, hence why D.S children tend to have more grommet operations than other children.  In general, the more severe and prolonged the compromise of Eustachian tube function, the more severe the consequences are to the middle ear and its delicate structures.  If a person is born with poor Eustachian tube function, this greatly increases the likelihood of more frequent and severe episodes of otitis media.  Progression to chronic otitis media is much more common in this group of people, who often have a family history of middle ear disease.


       The Symptoms 
             When the middle ear becomes acutely infected, pressure builds up behind the eardrum (tympanic membrane), frequently causing pain. It may result in ''bullous myringitis'', in which the tympanic membrane is inflamed and blistered. In severe or untreated cases, the tympanic membrane may rupture, allowing the pus in the middle ear space to drain into the ear canal. If there is enough of it, this drainage may be obvious. Even though the rupture of the tympanic membrane suggests a traumatic process, it is almost always associated with the dramatic relief of pressure and pain. In a simple case of acute otitis media in an otherwise healthy person, the body's defenses are likely to resolve the infection and the ear drum nearly always heals. Antibiotic administration can prevent perforation of the eardrum and hasten recovery of the ear.
             Instead of the infection and eardrum perforation resolving, however, drainage from the middle ear can become a chronic condition. As long as there is active middle ear infection,the eardrum will not heal.The World Health Organization defines chronic suppurative otitis media (CSOM) as "a stage of ear disease in which there is chronic infection of the middle ear cleft, a non-intact tympanic membrane (i.e. perforated eardrum) and discharge (otorrhoea),for at least the preceding two weeks" (WHO 1998). Notice WHO's use of the term ''serous'' to denote a bacterial process, whereas the same term is generally used by ear physicians in the United States to denote simple fluid collection within the middle ear behind an intact eardrum.''Chronic otitis media'' is the term used by most ear physicians worldwide to describe a chronically infected middle ear with eardrum perforation.



NOVEMBER

CUMAN MAU BUAT POSTINGAN BARU AJA













Teori Belajar Clark Hull

A.        SEJARAH
Clark L. Hull (1884-1952) meraih gelar Ph. D. dari university of Wisconsin pada 1918, tempat dia mengajar dari 1916 sampai 1929. Pada tahun 1929 dia pindah ke Yale dan tetap di sana sampai meninggal. Karier Hull dapat dibagi menjadi tiga bagian terpisah, yaitu perhatian utama pertamanya adalah tes bakat dan kecakapan, perhatian kedua Hull adalah hypnosis, dan perhatian ketiganya, dan karya yang membuat terkenal adalah studi proses belajar.
Buku buatan pertama Hull mengenai belajar, principles of behavior (1943) mengubah studi tentang belajar secara radikal. Karya ini adalah usaha pertama untuk mengaplikasikan teori ilmiah yang komprehensif ke dalam studi fenomena psikologis yang kompleks. Hull adalah orang pertama yang menggunakan teori yang kukuh untuk mempelajarai dan menjelaskan proses belajar. Atas usahanya, Hull menerima warren Medal pada 1945 dari society of Experimental Psychology.
Hull menderita cacat fisik yaitu kelumpuhan sebagian karena polio sejak kecil. Pada 1948 di terkena serangan jantung koroner dan empat tahun kemudian dia meninggal. Dalam buku terakhirnya (behavior system), dia mengekspresikan penyelasannya karena buku ketiga tentang belajar yang ingin ditulisnya tidak pernah terwujud.
Walaupun Hull merasa teorinya belum lengkap, namun teorinya sangat berpengaruh terhadap teori belajar di seluruh dunia. Clark Hull adalah kontributor utama untuk pengetahuan kita tentang proses belajar. Tujuan teori Hull adalah menjelaskan perilaku adaptif dan untuk memahami variabel-variabel yang mempengaruhinya. Dapat dikatakan bahwa Hull tertarik untuk menyusun sebuah teori yang menjelaskan bagaimana kebutuhan tubuh, lingkungan dan perilaku saling berinteraksi untuk meningkatkan probabilitas survival organisme.

B.        Konsep dan Teori
Dasar dari teori belajar Hull adalah teori belajar behavioristik.  Clark Hull menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian belajar. Namun Hull juga terpengaruh oleh teori evolusi Charles Darwin. Bagi Hull semua fungsi tingkah laku bermanfaat, terutama untuk menjaga agar organisme tetap bertahan hidup. Oleh sebab itu Hull mengatakan kebutuhan biologis (drive) dan pemuasan kebutuhan biologis (drive reduction) adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus (stimulus dorongan) dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat berwujud macam-macam.
Clark L. Hull mendasarkan teori belajarnya pada tingkah laku yang diselidiki dengan hubungan perkuatan S-R.
 Kebutuhan yang timbul akan menyebabkan terbentuknya suatu perilaku yang akan mereduksi kebutuhan secara berangsur-angsur yang dapat dipelajari responnya. Stimulus yang dapat menimbulkan respon adalah stimulus yang mengenai saraf sensoris atau reseptor kemudian menimbulkan impuls yang masuk afferent, yaitu saraf gerak dan dapat mengaktifkan otot-otot maskuler.
S dengan huruf besar merupakan stimulus dan obyeknya. S dengan huruf kecil merupakan stimulus dalam organisme, stimulus yang sudah berupa impuls. Impuls merupakan perangsang atau stimulus yang sudah ada dan bekerja dalam saraf. Dalam teori kali ini yang akan kita pakai s dengan huruf besar.
Hull membedakan tendensi untuk timbulnya R dan r. R untuk respon yang nampak, faktual, dan r adalah predisposisi respon yang masih dalam aktivitas saraf. r merupakan respon yang masih ada didalam organisme, jadi tidak nampak, tapi mempengaruhi tingkah laku. Hull mengganti S-R menjadi SHR, dimana H merupakan habit.
Hull membedakan antara learning dengan performance. Tindakan dipengaruhi oleh banyak hal, tetapi belajar hanya dipengaruhi oleh faktor jumlah waktu, respon khusus terjadi karena kontinu dengan perkuatan. Menurut Hull tingkah laku bersumber pada kebutuhan yang merupakan tuntutan hidup.

Hull juga mengembangkan beberapa definisi, antara lain:
1.        Kebutuhan (Need)
Kebutuhan merupakan keadaan organisme yang menyimpang dari kondisi biologis optimum pada umumnya yang digunakan untuk melangsungkan hidupnya.
2.        Dorongan (Drive)
Kondisi kekosongan ganda organisme sehingga mendorong untuk melakukan sesuatu. Istilah lain dari dorongan adalah motiv.
3.        Perkuatan (Reinforcement)
Sesuatu yang dapat memperkuat hubungan S-R, dan respon terhadap stimulus tersebut dapat mengurangi ketegangan kebutuhan.

C.        Postulat yang Diajukan Oleh Hull

Hull mengajukan enam belas postulat . Postulat-postulat itu adalah pernyataan umum tentang perilaku yang tidak dapat diverifikasi secara langsung.
Postulat 1: Sensing the external environment and the Stimulus Trace.  ( Impuls saraf afferent dan bekas lanjutannya )
Jika suatu perangsang mengenai reseptor, maka timbullah impuls saraf afferent dengan cepat mencapai puncak intensitasnya dan kemudian berkurang secara berangsur-angsur. Sesaat saraf afferent berisi impuls dan diteruskan kepada saraf sentral dala beberapa detik dan seterusnya timbul respon. S-R diubah menjadi S-s-R atau S-s-r-R. Simbol s adalah impuls atau stimulus trace dalam saraf sensoris, dan simbol r adalah impuls respon yang masih dalam saraf fferent.

Postulat 2: The Interaction of Sensory Impulses. Interaction of sensory impulses ( s )
(Interaksi saraf afferent)
Impuls dalam suatu saraf afferent dapat diteruskan ke satu atau lebih saraf afferent lainnya. R timbul tidak hanya karena satu stimulus, tetapi lebih dari satu S yang lalu terjadi kombinasi berbagai stimulus. Rumusnya akan berubah menjadi S-r-R.

Postulat 3: Unlearned behavior (tingkah laku yang tidak dipelajari)
Sejak lahir organisme mempunyai hierarki respon penentu kebutuhannya yang timbul karena ada rangsangan-rangsangandan dorongan. Respon terhadap kebutuhan tertentu bukan merupakan respon pilihan secara random, tetapi respon yang memang ditentukan oleh kebutuhannya, misalnya mata kena debu maka mata berkedip dan keluar air mata.

Postulat 4: contiguity and Drive reduction as Necessary conditions for Learning. (kontiguitas dan Reduksi Dorongan sebagai kondisi-kondisi untuk belajar)
Kekuatan kebiasaan akan bertambah jika kegiatan-kegiatan reseptor dan efektor terjadi dalam persamaan waktu yang menyebabkan hubungan kontiguitif dengan hadiah pertama dan hadiah kedua.

Postulat 5: stimulus generalization. (penyamarataan)
Kekuatan kebiasaan yang efektif timbul karena stimulus lain daripada stimulus pertama yang menjadi persyaratan bergantung kepada penindakan stimulus kedua dari yang pertama dalam kesatuan yang terus menerus dari ambang perbedaan, dengan kata lain yang ingin dibentuk merupakan hasil rata-rata persyaratan stimulus berikutnya.

Postulat 6: Stimuli associated with drives. (Stimulus dorongan)
Hubungan dengan tiap-tiap dorongan adalah stimulus dorongan karakteristik yang intensitasnya meningkat dengan kekuatan dorongan.

Postulat 7: Reaction as a Function of Drive and habit strength. (Potensi reaksi yang ditimbulkan oleh dorongan)
Kekuatan kebiasaan disintesiskan kedalam potensi reaksi dengan dorongan-dorongan primer yang timbul pada saat tertentu.

Postulat 8: Responding Causes Fatigues, Which Operates Against the Elicitation of a Conditional Response.  (Pengekangan reaksi)
Timbulnya suatu reaksi menyebabkan pengekangan reaksi yang lain. Suatu kejemuan untuk mengulangi respon. Pengekangan reaksi adalah penghamburan waktu yang spontan.

Postulat 9: the Learned Response of Not Responding.
            Kelelahan adalah pendorong negative, dan karenanya tidak memberikan respons akan menghasilkan penguatan. Tidak member respon akan menyebabkan IR menghilang, dan karenanya mengurangi dorongan kelelahan. Respons untuk tidak merespons ini dinamakan conditioned inhibitattion (SIR) (hambatan yang dikondisikan)

Postulat 10: Factors Tending ti Inhibit a Learned respons Change from Moment to Moment.
Menurut Hull, ada “potensi penghambat” yang bervariasi dari satu waktu ke waktu lainnya dan menghambat munculnya respons yang telah dipelajari. “potensi penghambat” ini dinamakan oscillation effect (efek guncangan [SOR] ).

Postulat 11: momentary Effective Reaction potential Must Exceed a certain value before a Leraned Response can Occur.
Potensi reaksi efektif yang momentum harus melampaui reaksi ambang perangsang sebelum stimulus membangkitkan reaksi.

Postulat 12: Kemungkinan reaksi diatas ambang perangsang.
Kemungkinan respon adalah fungsi normal dari potensi reaksi efektif melampaui reaksi ambang perangsang.

Postulat 13: The Greater the Value of SER the sorter will be the latency between S and R. latency [str ] adalah waktu antara presentasi stimulus ke organisme dan respons yang dipelajarinya. Postulat ini menyatakan bahwa waktu reaksi antara awal stimulus dan kemunculan respons yang telah dipelajari akan turun jika nilai SER naik.
Postulat 13: Latensi (keadaan diam atau berhenti)
Makin potensi reaksi efektif melampaui reaksi ambang perangsang makin pendek latensi respon, artinya respon makin cepat timbul.

Postulat 14: Hambatan berhenti (ekstingsi)
Makin besar potensi reaksi efektif, makin besar respon yang timbul tanpa perkuatan, sebelum berhenti atau ekstingsi.

Postulat 15: The amplitude of a conditional response Amplitudo respon (besarnya respon)
Besarnya dorongan dilantari atau disebabkan oleh peningkatan kekuatan potensi efektif reaksi dalam sistem saraf otonom.

Postulat 16 : When Two or More Incompatible Response Tend to be Elicited in the Same Situation, the One with the Greatest  sEr  will occur.  
Jika potensi-potensi reaksi kepada dua atau lebih respon-respon yang bertentangan terjadi dalam organisme pada waktu yang sama, maka hanya reaksi yang mempunyai potensi reaksi yang lebih besar akan terjadi responnya.

Hull mengajukan enam belas postulat dalam cakupan enam hal yakni sebagia berikut:
1.      Tanda-tanda luar yang mendorong atau membimbing tingkah laku dan representasi neuralnya atau saraf. (postulat 1-3)
2.      Respon terhadap kebutuhan, hadiah dan kekuatan kebiasaan. (postulat 3 &4)
3.      Stimulus pengganti (ekuaivalen) (postulat 5)
4.      Dorongan-dorongan sebagai akitivator respon. (postulat 6 & 7)
5.      Faktor-faktor yang melawan respon-respon (postulat 8,9,10)
6.      Bangkitnya respon. (postulat 11-16)

D. Beberapa persamaan teori belajar Hull dengan teori belajar sebelumnya adalah sebagai berikut:
1.Berdasarkan asosiasi S-R
2.Berdasarkan cara melangsungkan hidup.
3.Berdasarkan kebutuhan biologis dan pemenuhannya.
4.Orientasinya kepada teori Pavlov.